Tour De Java Part II

Kemarin hari Jum'at tanggal 22 September adalah hari kedua kami berempat berada di Kota Gombong... sekitar pukul 07.30 saya mengantar Ibu Suri dan Ibu Negara mencari sarapan pagi...
Ibu Suri ingin makan sate ayam jaman saat beliau masih kecil dulu... kebetulan memang kalo kami liburan di Gombong (di rumah Eyang), pagi2nya kami selalu memanggil tukang sate langganan untuk datang... namun ketika rumah Eyang sudah tidak ada, kami tidak pernah lagi memanggil tukang sate langganan kami tsb.

Demi menyenangkan hati Ibu Suri, akhirnya kami bertiga menelusuri sepanjang jalan kota Gombong, berharap agar bisa bertemu dengan Pak Prepet (demikian nama tukang sate tsb)... Alhamdulillaah...
Allah Maha Besar, kami melihat beliau sedang berjualan sate di pinggir jalan di depan jejeran warung yang sedang tutup.

Langsung saja kami hampiri, beliau kaget juga melihat kedatangan kami... Maa syaa Allah... senangnya kami bertemu Pak Prepet, dengan usianya yang sudah cukup sepuh, 72 tahun, beliau masih berjualan sate pikulan dari rumahnya ngider ke jalan2 utama di Kota Gombong...
Sate yang dijual beliau adalah sate ayam biasa, baik dari dagingnya maupun kulit dan jeroannya (ati, ampela dan usus)... tapiii sausnya ini yang menurut saya luar biasa dan berbeda dari sate biasa... sausnya dibuat dari tempe yang dihaluskan dan diberi bumbu rempah2... rasanya enak, sedikit manis dan harum bau rempah... jenis sate ini banyak di dapat di daerah Ambal... tapi karena yang jual namanya Pak Prepet... jadi kita2 semua memanggilnya "Sate Prepet"


Ibu Negara sedang membeli Sate Pak Prepet
Serius banget ngobrolnya Buuu...
Orang Keto boleh makan iniiiiii...

Setelah selesai beli sarapan dan kembali ke hotel utk check out, sekitar pukul 10.00 pagi rombongan bertolak menuju Purworejo, rencananya kami berempat akan ziarah kubur ke Makam Keluarga Eyang dr. Tjitrowardojo (dokter pribumi jawa pertama jaman Kolonial Belanda yang juga Eyang Buyut Kakung saya).
Rombongan memutuskan dengan musyawarah menuju Purworejo melewati jalan alternative yaitu yang dikenal dengan sebutan "Jalan Daendels"... dari jalur tersebut, kita melewati daerah Petanahan, Puring, Ambal dan tujuan terakhir Purworejo.
Pemandangan di Jalan Daendels ke arah Purworejo
Berbekal informasi yang sangaaaaaattt lengkap dari sahabat saya, Akhiy Pri Ganesa Jaya... bahwa jalan Daendels sangat mulus dan sepiiiii... maka kami memberanikan diri lewat sana... dan ternyata... beuuhhhh... bener2 mulus seperti paha ayam KFC original... hehehe
Terima kasih banyak atas infonya ya akhiy Pri... jazaakallahu khayraan

Tentunyaaaaa... pada saat kami melewati daerah Ambal... kami brenti lagi buat makan sate ambal dengan bumbu saus tempe yang dihaluskan tsb (kagak ada kenyang2nya yeee)... pokoknya endeeesss merendessss dah satenya  


Sate Ambal di daerah Ambal dengan bumbu saus dari tempe yang dihaluskan plus rempah2
Kaisar dan Ibu Suri sedang menikmati Sate Ambal 























Jam 13.30 an kami sampai di Purworejo, Purworejo adalah kota tempat di mana Ibu Suri menyelesaikan masa SMA nya, sebelum beliau memutuskan untuk menjadi seorang Polisi Wanita, Purworejo biasanya juga dikenal sebagai "Kota Pensiunan"... entah kenapa julukannya demikian, tapi emang sih... kondisi kotanya dari dulu yaaa gitu2 aja (hubungan sama pensiunan apa yaaa????) Saya suka Kota Purworejo, banyak bangunan Belanda walopun banyak juga yg sdh hancur, rusak atau dibongkar...  


Salah satu Rumah Belanda yang tidak terawat... sayang sekali

Sesampainya di Purworejo, kami langsung menuju makam Eyang Tjitrowardojo, bagi penduduk asli Purworejo di sekitar makam, makam tersebut lebih dikenal dengan sebutan "Pesarean (makam) Dokteran"... ngg tau kenapa disebut begitu? Mungkin karena Eyang Tijtro seorang dokter kali ya?
Kami berempat naik bentor (becak dan motor) dari tempat parkir kendaraan sampai ke depan rumah juru kunci makam... Oya nama Eyang Buyut Kakung diabadikan sebagai nama RSUD Purworejo loohhh... kira2 sebagai buyutnya eyang, nama saya kapan ya bisa diabadikan juga???... woyyy bangunn... jangan kebanyakan mimpi .... Khekhekhe...  


Stasiun Kereta Purworejo

RSUD Dr. Tjitrowardojo, Purworedjo






Ibu Negara sedang berjalan menuju Pesarean Dokteran
 
Kaisar (pakai payung) sudah mendahului Ibu Negara... drivernya mana?....ya di belakang lahhh... cekrak cekrekkk
Naik naik ke puncak bukit... tinggi tinggi sekaliiiiii
























Sebelum memasuki area makam, Ibu Negara berbisik kepada saya untuk melepas sendal yang kita pakai... karena memang sunnahnya demikian, jika kita memasuki areal pemakaman, maka kita disunnahkan untuk melepas sendal... tentunya dengan melihat kondisi makamnya juga sihhh... buat saya dan Ibu Negara karena masih muda belia mah ngg masyalah.... tapi untuk Ibu Suri dan Kaisar... yaaa kasihan dunkksss... tanahnya kering, berkerikil tajam dan panas... jadi buat Bapak dan Ibu dimaklumi memakai sandal... baydewey baswey makasih ya Ibu Negara dah ngingetin drivernya  


Buka sandalnya yaaa pas masuk areal pemakaman

Berempat di belakang pesarean Eyang Kakung Sumaly, Eyang Putri Sutaryati dan Eyang Putri Mulsinah

Ibu Suri berpose dekat bunga

Disunnahkan juga saat kita memasuki areal pemakaman (tanpa harus berdiri tertuju pada makam tertentu), kita membaca doa :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ َ ِ
“Ya Allah..Ampunilah dia, berilah rahmat kepadanya,selamatkanlah dia, maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), 
آمينَ يَا مُجِيبَ السَّائِلِينَ
 
Oya ada satu cerita menarik soal perjalanan menuju makam, ini adalah kunjungan saya pertama kali ke makam dalam kondisi menjalani gaya hidup Ketofastosis... jalanan menanjak menuju makam bisa saya lewati tanpa ngos2an dan keletihan, hanya memang cuaca saat itu sangat panas (sudah 4 bulan tidak turun hujan - menurut Pak Hardi, juru kunci makam)... luar biasa ketofastosis ini... bikin badan segerrrr dan enteng.

Luar binasa puanasnyaaa... full keringat dan basah kuyup
Latar belakang makam Eyang Tjitrowardojo (tengah) diapit kedua istrinya
Dari makam, tampak di kejauhan sawah masih menghijau berkat irigasi yang masih berjalan















 Setelah selesai dari makam, kami berempat bertolak menuju Jogjakarta
"Pulang ke kotamu Ada setangkup haru dalam rindu Masih seperti dulu Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna..."

Kami berempat menginap di rumah guest house milik sahabatnya Ibu Negara, rumah dengan 3 kamar tidur (1 kamar ada kamar mandi) dengan fasilitas carport, AC, Water Heater, Pantry, Kulkas, Wi-Fi, TV Kabel dengan harga yang bersahabat juga...
Sahabat2 FB ada yg penasaran?????... silakan kunjungi website nya di : http://abnb.me/EVmg/jonIbenFxG
Siapa tau berminat dan ada rencana mo nginep lama di kota gudeg ini








Komentar

Postingan Populer