Menuntut Ilmu

Banyak sekali kisah nyata terjadi dalam kehidupan ini yg dpt kita ambil sbg pelajaran penting bagi kita dlm menjalani kehidupan... tapi seperti yg sering terjadi di medsos, kadang saat kita ambil kisah nyata tsb sbg pembelajaran dan kita share di medsos, banyak pihak merasa terlukai atau merasa apa yg kita posting itu menyudutkan atau menyinggung mereka... padahal kenyataannya tidak begitu.

Begitulah medsos, ngg heran ada istilah "di medsos itu kita ungkapin sayang ke siapa, yang ge er siapa, kita ingetin siapa, yang tersinggung siapa"... berangkat dari kondisi ini, sy pikir ada baiknya kalo sy ambil dari kisah2 fiksi saja sebagai pembelajaran, karena banyak juga kisah2 fiksi yg bisa kita ambil hikmah dan pelajaran dan kita jadikan contoh drpd harus menanggung resiko banyak yg tersinggung dengan postingan kita...

Banyak kisah2 nyata para Sahabat2 yg hidup di jaman Rasulullah yg dapat kita teladani, namun karena keterbatasan ilmu yg sy punya, sy tidak berani menuliskan kisah2 tsb di sini sebagai acuan atau sumber atau dasar penulisan... alasannya karena sy bukan ustadz/ulama dengan derajat keilmuan ttg agama yg memang menguasai bidangnya... karena itu sy lebih memilih mengambil dari cerita fiksi yg sy tahu saja.

Dalam kisah fiksi "The Condor Trilogy", dikisahkan Ou Yang Feng atau yg dikenal dgn sebutan sebagai "Si Racun Tua dari Barat" adalah salah satu dari 5 tokoh yg menguasai dunia persilatan, karena ambisi dan keinginan jahatnya, dia ingin menjadi tokoh nomor 1 agar dapat menguasai dunia persilatan mengalahkan ke 4 tokoh lainnya, untuk mewujudkan cita2nya dia berhasil mendapatkan kitab yang memuat ilmu nomor satu dalam dunia persilatan, namun karena dia tidak mempunyai pengalaman dalam mempelajari ilmu tsb, dia mempelajari isi kitab tsb dengan cara yang salah... walaupun dia berhasil menguasai ilmu itu dan menjadi orang yg tdk terkalahkan, namun Ou Yang Feng harus menjadi seorang yg lupa ingatan alias hilang kewarasannya... atau gila.
 



Dalam kisah berikutnya, masih dalam deretan kisah "The Condor Trilogy", Nona Zhuo Zhiruo adalah seorang murid yg sangat berbakti pada gurunya, sang guru juga sangat menyayangi dan mempercayakan Zhuo Zhiruo utk memegang posisi sebagai pengganti dirinya menjadi pemimpin perguruan.

Di masa akhir hidup gurunya, sebelum meninggal sang guru membisikkan satu rahasia tentang suatu ilmu (sang guru sendiri belum menguasai ilmu tsb karena keburu meninggal) yang bisa membuat Zhuo Zhiruo menguasai dunia persilatan agar dapat menghentikan pertikaian antara masing2 perguruan dalam mencari dan memperebutkan 2 benda pusaka dan juga untuk mengusir penjajah Mongol dari wilayah China (saat itu Mongol berhasil menguasai China dalam kurun waktu 100 tahun lebih), untuk tujuan mulia ini, sang guru menyarankan agar Zhuo Zhiruo memakai cara2 dan trick licik agar dapat memecahkan teka teki di mana letak kitab ilmu tsb berada, sementara sebelum mendapatkan kitab yg dimaksud, sang guru juga memberikan satu rahasia lagi tentang ilmu tsb yg ternyata sdh ditulis secara singkat (garis2 besarnya saja), sehingga Nona Zhuo dapat mempelajari ilmu tsb terlebih dahulu dengan cara singkat, sampai dia mendapatkan waktu tepat untuk mempelajari ilmu di maksud secara lengkap dan sesuai dengan petunjuk.
 



Namun dalam perjalanan kedepannya, upaya Nona Zhuo ini tidak semulus seperti perkiraannya, walaupun dia berhasil mengalahkan semua tokoh2 dunia persilatan dgn ilmu barunya, namun fakta nya Nona Zhuo belum menguasai 100% ilmu yg sebenarnya, sehingga upaya tersebut harus padam di tengah jalan saat dirinya menanggung kekalahan ketika bertarung melawan Nona Berbaju Kuning yang tanpa disangka2 ternyata memang menguasai ilmu itu secara keseluruhan... dengan kekalahan yg ia alami, terbongkarlah semua cara2/trick licik yg sdh ia lakukan sebelumnya, untungnya Nona Zhuo segera menyadari kesalahannya.
 


Pesan moral dari 2 kisah yg sy tulis di atas, adalah :
1. Agar kita selalu berhati2 dalam menuntut ilmu, terlebih lagi dalam menuntut ilmu agama. Pengetahuan tentang agama yg kita miliki ini kebanyakan adalah berdasarkan pengetahuan atau kebiasaan turun temurun dari nenek moyang atau masyarakat sekitar kita selama kita hidup, sebaiknya kita jangan cukup merasa puas dengan pengetahuan yg kita miliki... belajarlah terus sehingga wawasan tentang agama kita semakin luas dan kita bisa mengetahui mana yg benar dan mana yg salah... untuk hal dunia kita bisa mengejar sesuatu sampai titik darah penghabisan, tetapi untuk masalah agama, biasanya kita cukup puas sampai di situ saja, padahal justru agamalah yg nantinya menjadi bekal kita di yaumil akhir... jangan sampai kita menyesal di sana;
2. Dalam mempelajari atau menuntut ilmu, apalagi ilmu agama, wajib untuk mengetahui bagaimana guru yg kita ambil ilmunya... wajib kita mengetahui bagaimana sepak terjangnya... belum tentu guru yg sdh terkenal di masyarakat memiliki derajat keilmuan yg mumpuni... dan yg lebih penting, dalam menuntut ilmu, kita wajib memiliki guru yg mendampingi, jangan memberanikan diri untuk mempelajari ilmu sendiri karena bisa jadi pemahaman yg akan kita tuju berbeda dengan pemahaman yg sebenarnya;
3. Menuntut ilmu harus berdasarkan dalil2 dan riwayat2 serta sumber2 yg jelas dan asli, jangan lekas percaya jika kita mendapatkan suatu ilmu yg datang kepada kita tanpa kita check kebenarannya terlebih dulu, mempelajari suatu ilmu harus secara lengkap sumbernya dan bukan hanya singkat atau hanya mengambil intisarinya saja, karena isi dari ilmu tsb bisa jadi belum kita dapatkan walopun kita sudah menguasainya;
4. Belajar membedakan antara menerima nasihat dan menuntut ilmu, untuk nasihat yg baik wajib kita terima dari siapa saja namun untuk menuntut ilmu, kita harus melihat siapa gurunya, seorang lulusan kedokteran spesialis paru tidak mungkin menimba ilmu tentang paru nya kepada seorang profesor doktor di bidang jantung (walopun dia mempunyai gelar profesor doktor di bidang jantung), begitu pula seorang yg mempelajari agama, tidak mungkin belajar dari seorang yg bukan memiliki derajat tingkat keilmuan agama yg mumpuni atau jebolan dari perguruan agama yg sudah terkenal kredibilitasnya;
5. Apapun tujuannya dalam menuntut ilmu, apakah untuk dipakai untuk tujuan yang mulia sekalipun jika menempuh jalan yang salah, resultnya tidak akan memiliki nilai yang baik, apalagi jika tujuannya memang sudah tidak baik dari awalnya;
6. Seorang gurupun adalah manusia, bisa jadi dirinya mempunyai banyak kesalahan, apalagi jika dirinya belum menguasai ilmu yg kita pelajari dan juga mengajarkan kita untuk belajar dengan cara2 yg salah... ada baiknya kita belajar tidak hanya dengan satu guru saja, jika dalam masalah dunia saja kita selalu mencari "second opinion" saat mendengar opini dari dokter yg menjelaskan penyakit yg kita derita, kenapa justru kita tidak berbuat demikian untuk masalah akhirat yg akan kita tuju nantinya?

Ada baiknya kita membaca tulisan dari seorang dokter yg juga seorang ustadz (Ustadz dr. Rahaenul Bahraen) di bawah ini dalam rangka kita menuntut ilmu, karena penting untuk kita sikapi secara positive :

# Dokter Karbitan dan Ustadz Karbitan

Ketika menerapkan ilmu, Seorang dokter jika ingin menerapkan ilmunya kepada pasien, maka ia harus belajar dahulu dengan lama sekitar 6 tahun lebih (untuk mendapat gelar dokter). Dan ia harus melalui beberapa tahap.

1.belajar ilmu teori
2.belajar prkatek dengan manekin (boneka untuk praktek)
3.belajar praktek dengan pasien sehat terlatih
4.belajar praktek dengan pasien sakit dengan bimbingan
5.praktek mandiri

Akan tetapi untuk ilmu agama, maka orang DENGAN MUDAHNYA menjadi ustadz, dengan mudahnya menjadi rujukan pertanyaan dalam masalah agama, dengan mudahnya memberikan fatwa dengan mudahnya menjadi khatib dan penceramah.

Padahal ia adalah artis baru taubat, ia baru sekedar baca-baca buku terjemahan tanpa berguru, ia baru sekedar pernah naik haji, baru sekedar pernah tinggal di Arab saudi saja.

Mari kita bandingkan:

Untuk ilmu kedokteran jelas ia harus menguasainya, jika tidak maka ia bisa melakukan mal praktek dan bisa merugikan pasien dan bahkan bisa dituntut jika melakukan kecerobohan.

dalam Hadits

“Barang siapa yang melakukan pengobatan dan dia tidak mengetahui ilmunya sebelum itu maka dia yang bertanggung jawab.”(HR. An-Nasa’i)

Begitu juga dengan ilmu agama, seseorang harus belajar dahulu dengan waktu yang tidak pendek. Ia butuh waktu yang lama agar bisa menjadi seorang ustadz yang akan membimbing masyarakat untuk memahami agama. Sebagaimana perkataan imam Syafi'i

Dan jika salah dalam memahami dan menyampaikan agama atau mal praktek dalam agama, maka dampaknya sangat berbahaya, bisa menyesatkan orang banyak dan berkata-kata atas nama Allah tanpa ilmu yan merupakan dosa terbesar, bahkan diatas dosa kesyirikan..

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Komentar

Postingan Populer